Senin, 22 Desember 2008

Pers Indonesia

PERS INDONESIA

Insan pers adalah insan yang merdeka dan tidak terikat dalam suatu institusi manapun. Sikap dan mental seorang insan pers dituntut untuk mampu menyampaikan fakta dan kebenaran berita atau informasi yang akan disampaikan kepada khalayak ramai. Dampak reformasi telah membawa nuansa baru bagi ritual pola pikir masyarakat Indonesia yang sebelumnya tersekat oleh sistem rezim orde baru dalam kurun waktu 32 tahun. Eksesnya, arus demokrasi lancar mengalir dan semakin menjamurnya media-media komunikasi yang mencoba untuk merangkum semua informasi yang ada dalam beragam bentuk, baik dalam bentuk cetak maupun elektronik.

Fenomena tersebut membuat banyak media berusaha untuk merekrut insan-insan pers yang memiliki integritas, dedikasi dan kompetensi yang cukup handal dalam mengaktualkan informasi tersebut ke dalam bentuk tulisan maupun gambar.

Redaksi yang ada dan nyata saat ini banyak sekali insan-insan pers yang belum memiliki kemampuan yang baik dalam menganalisis kebenaran dari suatu berita yang terjadi, sehingga hal tersebut dapat mempengaruhi kualitas berita yang disampaikan ke masyarakat luas. Bahkan kemungkinan terburuknya informasi itu dapat disalah artikan dalam menerjemahkan, akibatnya terjadi hal-hal yang tidak dikehendaki. Sebelum insan pers ini terjun ke dalam kawah candra dimuka, seharusnya perlu dibekali terlebih dahulu dengan pendidikan dan pelatihan baik ditingkat formal maupun informasi. Hal ini sangat diperlukan karena dapat memberikan bekal awal yang baik kepada mereka agar tidak terjerumus ke dalam sebuah retorika yang dimainkan oleh oknum-oknum yang tidak vertanggung jawab.

Dalam konteks kehidupan berbangsa dan bernegara, peran pers Indonesia diharapkan menjadi mediator, stabilisator dalam mendinamisatorkan suatu konflik yang terjadi dengan tidak berpihak kepada salah satunya. Secara historis, pers mempunyai peranan penting dalam perjuangan kemerdekaan Indonesia. Pers membuahkan koordinasi antara hasrat rakyat bagi kemerdekaan dan perjuangan sadar dari para pemimpin revolusioner untuk mencapai tujuan bersama itu. Tokoh-tokoh perjuangan seperti H. Agus Salim, Sam Ratulangi, Danudirdja Setyabudhi (Douwes Dekker), Ki Hajar Dewantara dan Tjipto Mangunkusumo, adalah tokoh-tokoh garis depan dalam pengembangan pers nasional, yakni pers yang berperan penting dalam perjuangan fisik di tahun 1940-an. Bahkan Bung Karno pernah memimpin Fikiran Rakyat di Bandung, Bung Hatta bersama Sultan Syahrir memimpin Daulat Rakyat, H. Oemar Said Tjokroaminoto memimpin Oeteosan Hindia, dan Dr. Soetomo mengusahakan Soeara Oemoem yang dipimpim Tjindarbumi dibantu Sudarjo Tjokrosisworo.

Para tokoh pers pada waktu itu adalah kelompok pelajar, berpendidikan tinggi, mengemban tanggung jawab kemasyarakatan, serta bias bersikat radikal dan bebasa dalam memandang kondisi masyarakat dan Negara tempat meraka hidup, yang terlihat dalam perjuangan mereka menentang penguasa colonial. Lahirnya surat kabar-surat kabar nasional pada waktu itu tidak jauh beda denmgan gerakan kebangsaan dan pers. Pers nasional adalah cermin nyata kehidupan gerakan kebangsaan sekaligus menjadi wahana penyebar gagasan-gagasan nasionalisme.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar