PERS MAHASISWA
Perjalanan pers mahasiswa Indonesia terbagi dalam dua decade, yaitu sebelum dan sesudah kemerdekaan. Di masa sebelum kemerdekaan terjadi, tercatat beberapa media yang sempat mewarnai dunia pers ketika itu antara lain, secara berkala seperti Jong Java pada tahun 1914, Ganeca(1923), Indonesia Merdekaoleh mahasiswa Indonesia di Belanda (1924), Soeara Indonesia Moeda (1928), Oesaha Pemoeda oleh pelajar dan mahasiswa Indonesia di Kairo (1930), Jaar Boek oleh THS dari ITB (1930-1941). Gairah untuk menerbitkan media dikalangan mahasiswa semakin berkembangpada masa pasca kemerdekaan. Di Jakarta antara lain Academica, Masiswa Forum, Vivat, Fiducia, Aesculapium. Di Bandung ada Bumi Siliwangi, Gema Physica, Gunadharma, Intelegensia, Mesin, Sclentia dll. Di Yogyakarta ada Criterium (IAIN), GAMA (UGM), Media (HMI), Tunas, Pnepus, dll. Di Surabaya ada Ut Omnes Sint (GMKI), Ta Hsueh Ta Chih. Di Medan ada Vidia dan Gema Universitas. Pada tahun-tahun inilah mulai terfikirkan untuk mendirikan organisasi pers mahasiswa. Ikatan Wartawan Indonesia (IWMI) lahir pada msa ini tepatnya Agustus 1955 pada konverensi di Yogyakarta.
Suasana ini tidak tahan lama, IPMI kemudian harus berbenturan dengan penguasa karena tidak mau mencantumkan manipol-usdek dalam anggaran dasar dan anggaran rumah tangganya. Selain itu, seiring dengan beragamnya partai politik yang ada pada masa itu., para aktivisnya lebih banyak terlibat dalam bernagai aktifitas partai politik. Sedikit melemahnya penerbitan mahasiswa kemudian beralih arah disaat-saat transisi antara orde lama dan orde baru, beberapa media seperti koran masiswa Indonesia edisi Jakarta, Jabar, Jateng serta harian KAMI yang juga terbit di beberapa kota benar-benarmengisi peran dalam pembentukan opini public. Tahun 1971-1974 kembali dunia pers mahasiswa mengalami kemunduran setelah upaya melokalisir para aktivitis ke dalam kampus.
Pasca malaria, kemudian hadir kembali beberapa media mahasiswa yang mengisi kekosongan pers tanah air setelah banyak media massa umum yang besar dibreidel. Terbitlah Salemba (UI), Gelora Mahasiswa (UGM), Atmajaya, Kampus (ITB), Derap Mahasiswa (IKIP Yogyakarta), dan Airlangga (Unair). Kontrol social yang ditampilkan oleh media-media mahasiswa ini tetap hadir bersamaan dengan media umum lainya. Ketika kompas, Pelita dan beberapa media lainya dibreidel di tahun 1978 pers mahasiswa di atas melancarkan fungsi control yang panjang kemudian sempat terjadi hingga pertengahan decade 80-an. Ini tidak berarti bahwa pers mahasiswa benar-benar hilang, karena 58 media mahsiswa berbasisi keilmuan tetap terbit seperti Aesculapius di FK UI, Arena (IAIN Yogyakarta), dan Muhibah (UII) tidak sebesar Gelora Mahasiswa, Salemba, Kampus, dll.
Pers mahasiswa selalu tidak pernah diam dengan realita kemasyarakatanya, kemudian memanfaatkan ruang-ruang yang tersisa setelah NKK/BKK perlahan-lahan para aktivitas mahasiswa mulai melirik pers sebagai tempat mencurahkan kegelisaan dan ide-ide mereka terdapat kualitas masyarakatnya. Maka, jangan herankalau banyak penulis mengakatan ada kaitan yang erat antara pers mahasiswa dan gerakan mahasiswa.
Lewat pertengahan 80-an, perkembangan pers mahasiswa semakin bergairah dan kini akhir tahun 1999, jumlah pers mahsiswa di seluruh Indonesia sudah lebih dari 700 buah. Hadir disetiapkampus bahkan sampai tingkat falkultas dan jurusab di Indonesia memilki pers mahasiswanya sendiri yang menerbitkan berbagai bentuk media: majalah, Koran, tabloid, bulletin, new letter, dll. Kini organisai pers mahasiswa di tingkat nasional adalah Perhimpunan Penerbit Mahasiswa Indonesia (PPMY), Forom Komunikasi Pers Mahasiswa Malang (FKPMM), Perhimpunan Penerbitan Mahasiswa Ujung Pandang (PPMU), DLL.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar